Belajar Dari Nabi Ibrahim

belajar dari ibrahimDialah bapak para nabi. Keturunan – keturunan yang mulia dari beliau menjadi para nabi. Pribadinya yang sabar mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Sehingga beliau menjadi salah satu Nabi Ulul Azmi, yaitu nabi yang mendapat ujian di atas kemampuan manusia biasa. Dialah Ibrahim ‘Alaihis Salam.
Bertahun- tahun beliau mendambakan keturunan, namun Allah SWT belum berkehendak. Telah banyak linangan air mata beliau untuk menunggu keturunan. Hingga akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan beliau. Akhirnya lahirlah seorang anak yang rupawan. Ismail, namanya.

Ketika sang buah hati telah lahir dan telah merekah rasa cinta kepada putranya, Allah SWT hendak menguji keimanan beliau. Beliau sangat sayang kepada Ismail, anak yang selama bertahun tahun dinanti kehadirannya. Ujian di atas ujian, beliau mendapat mimpi dari Allah SWT untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu..! Ia (Ismail) menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insyaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102)

Kisah pengorbanan yang sangat mulia oleh seorang Ibrahim. Atas dasar cinta kepada Allah SWT, beliau rela mengorbankan anak yang sekian lama dinantikan serta sangat dicintainya. Begitupula Ismail, yang rela dan ikhlas menerima atas dasar kecintaan kepada Allah SWT. Sungguh kisah yang sangat mengharukan antara seorang ayah dengan anaknya.

Kesabaran yang luar biasa Ibrahim serta Ismail menjadi contoh bagi kita semua. Bahwasanya kita hidup di dunia ini hanya sementara. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sudah mampukah kita bersabar?

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya.” ( Ash- Shoffat; 103)

Kesabaran yang luar biasa. Kesabaran antara ayah dan anak. Hingga Allah SWT membalas hasil dari kesabaran mereka dengan jalan keluar berupa kebahagiaan, sembelihan yang besar.

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash – Shoffat: 105)

Haru biru telah telah memenuhi ruangan hati Ibrahim dan Ismail. Perasaan gemuruh telah berubah menjadi samudra kebahagiaan. Gelombang ujian yang begitu dahsyat telah pecah dengan tekad mereka yang tegar bagai karang di tengah lautan.

Wahai bapak para nabi (Ibrahim), betapa besar kesabaran dan pengorbananmu.
Wahai Ismail betapa rela dan ikhlasnya dirimu
Wahai Ibrahim dan Ismail betapa mulianya sifatmu, hingga keturunanmu menjadi Nabi Penutup Akhir Zaman (Muhammad SAW)

Iklan

2 Tanggapan

  1. Artikel bagus dan mendidik hati..
    (Q.S. al-Ankabut (29): 2 ) : ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? ”
    (Q.S. al-Ankabut (29): 3 ) : “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
    Mudah2 an Kita tdk termasuk kelompok orang2 pendusta..- Amin -..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: